Hidup ini bagai terselimut api hitam
Penuh dengan kecemburuan dan dendam
Mata memandang api jahanam
Berselimut debu di dalam hai dalam..
Kebahagiaanku lambat laun terampas
Namun tak dapat kuhempas
Hati terasa terhimpit
Beban yang begitu sengit..
Cinta mulai pudar oleh waktu
Menggiringku tuk melupakanmu
Ingin rasanya terlempar ke masa lalu
Tuk merebut kembali kebahagiaanku dulu..
Keseharianku hanya berharap agar ini cepat berlalu
Berdiri dihadapanmu dan dia dengan berlagak tak tahu
Bermain bersama mimpi-mimpi dan khayalan semu
Harapanku tuk bis bersamamu hanya daji khayalan yang berlalu..
Rikaaputri :)
Welcome to My Blog, and I say thanks Cause you have Visited My Blog. Goodbye..
Minggu, 19 Mei 2013
Sabtu, 18 Mei 2013
Petikku Cinta Pertamaku
Alarm berbunyi , ayam sudah mulai sibuk dengan
kegiatan rutinnya membangunkan orang-orang tidur dikota ini. Kota Jogjakarta.
Pukul 05:00 tepat , Nina langsung bergegas mematikan alarm dan segera mandi
untuk bersiap-siap kerja hari ini. Niatku aku ingin berangkat lebih awal agar
bisa dapat lebih banyak hasil hari ini dan siangnya aku langsung berangkat
kuliah. Aku Cuma kerja jadi pengamen sebagai kerja sampingan. Bermodalkan gitar
yang aku bawa dari pemberian Ayahku aja aku bisa cari duit sendiri, yah
seenggaknya bisa meringankan beban orangtuaku untuk membayar kuliahku, aku
memilih kuliah di fakultas seni music. Memang dari kecil aku sudah dikenalkan
berbagai alat music oleh Ayahku, seperti suling, gendang, Pianika, harmonica
dan tentunya gitar. Dan pada akhirnya aku memutuskan kuliah di Jogjakarta untuk
meneruskan sekolahku, aku sudah meninggalkan Kota Malang tanah kelahiranku baru
2 bulan yang lalu.
Dikampus
aku dijuluki manusia aneh, ya mungkin karena penampilanku yang seperti ini jadi
tidak sesuai dengan style
teman-temanku yang lain. Tapi bukannya aku tak punya kawan di kampus ini,
disini aku juga sahabat paling setia yang selalu ada disaat aku susah maupun
senang. Tania.
“Kantin
yuk?” Ajak Tania.
“Ayok
, laper banget nih!” jawabku sambil berjalan melewati lapangan futsal samping
kantin. Seketika dan tanpa komando aku langsung melongo seakan terhipnotis
melihat kearah lapangan tanpa mengedipkan mata untuk beberapa detik. Joshua.
“Hahaha,
kaya nggak makan sebulan aja lo! Emang lo nggak sara………”
Pertanyaan itu seakan melayang begitu
saja.
“Nin..
Nin… Ninaaaaaaaaaa!! Lo ngeliatin apasih? Gue lagi ngomong ih!”
“oh..
sorry-sorry tan. Nggak, nggak lagi ngeliatin apa-apa kok.”
“hmm..
dusta coba aku lia……tt” . “Ohh.. kamu ngeliatin dia?”
Dengan nada bicara yang tak teratur
aku jawab “hah? Dia? Dia siapa? Ngada lo mah! Udahlah lo mau pesen apa?”
Basa-basi untuk mengalihkan pembicaraan.
“Nah
pake basa-basi segal lo haha. Nasi goreng sama es teh manis aja ya nin”
“Oke
siap bos!” Nada sigapku siap melayani
Antrean panjang ditambah dorong desak
mahasiwa lain membuat aku lebih milih duduk dulu hingga antrean mulai
merenggang. Setelah mulai agak longgar Aku bangkit dari posisi dudukku dan
segera memesan pesananku juga pesanan Tania.
Tiba-tiba muncul sosok itu lagi. Sosok
yang membuatku tadi melongo , dan ternyata hal itu terjadi lagi. Dia yang
mendahului posisi antreanku membuat aku melongo kembali.
Secara tak sengaja ternyata dia
menerobos antrean dan menyenggol minuman pesanan Tania. Es Teh Manis.
“Ehh!!”
“Maaf,
maaf nggak sengaja!”
“gimana
sih!”
Dia langsung menghiraukan aku, aku langsung
pergi meninggalkan tempat itu dan langsung menghampiri meja Tania. Tania
ternyata juga tau hal itu.
“Taaaaaa
raaaaa.. Nasi goreng datang..”
“Lama
amat nin, hayoo abis ketemu siapa?”
“ketemu
apa sih. Ketemu siapa geh.” Nada gelagapanku mulai terlontar kembali. “ Maaf
ya, teh-mu tadi tumpah. Tapi aku udah pesen lagi kok , nanti dikirim kesini.”
“Iya aku tau. Sini-sini duduk. Sini
gue certain yaa.. Dia itu namanya Joshua, kalo bisa dibilang dia itu mahasiswa
terkece dikampus ini, jago main futsal, bawaannya mobil Honda jazz kemana-mana.
Dia asli Metropolitan asli.”
“Anak
orang kaya pastinya?”
“Iyalah
pastinya, lo naksir?”
“Ehhh..
ngada deh lo itu lama-lama, ya enggak lah” Lagi-lagi gelagepan.
“Kalo
lo naksir, agaknya gak bisa deh”
Kata-kata itu seakan membuat aku
penasaran.
“emang
kenapa?”
“dia
kan ganteng, pasti banyak yang naksir . Nanti lo banyak saingannya lagi.”
“ohh..
Ihh apaan sih kok jadi bahas dia , enggak geh, siapa juga yang naksir.”
“Terserah
elo deh, awas ya nanti kemakan omongan sendiri loh”
“ENGGAK
Tania sayaaaaang!!”
--------------------------------------------------------------------------
Pagi ini
aku siap dengan topi yang sengaja aku putar tudungnya kebelakang , kaos oblong
warna hitam pekat yang juga dilapisi
jaket jeans yang sudah agak kusam dan pudar warnanya , ransel yang aku
sampirkan dibahu serta celana jeans warna biru muda yang sudah kumel ditambah
dengan sandal jepit bergambarkan Monnokurobo ini siap berangkat. Aku langsung
mengunci pintu kamar kos ku dan tidak lupa gitar kesayanganku, kali ini aku
akan menuju perempatan malioboro.
Lampu
merah perempatan dari arah utara dan selatan, aku ngamen di bagian selatan ,
aku mencoba menyanyikan lagu-lagu favoritku. Wish You Were Here lagunya Avril
Lavigne.
Damn, Damn, Damn,What I'd do to have you Here, Here, Here I
wish you were here
Damn, Damn, Damn,What I'd do to have you Near, Near, Near I
wish you were here..
All those crazy thing you saidYou left them
running through my headYou're always there, you're everywhereBut right now I
wish you were here
Sewaktu
aku masih di malang aku selalu menyanyikan lagu ini dengan ayah. Pokoknya lagu
ini yang menginspirasi aku biar jadi musisi terkenal, yap tepat. Itulah
cita-citaku dari kecil.
Aku bernyanyi kesana kemari sampai
pada akhirnya mobil berwarna putih datang tepat dihadapanku aku langsung memainkan
jari-jariku diatas gitar yang aku pegang didekat jendela mobil warna putih yang
agak sedikit kusam itu. Tiba-tiba
seseorang telah membuka jendela mobilnya dan memberikanku uang . Tanpa aku
perhatikan secara seksama, aku tinggalkan mobil itu setelah menerima uangnya .
“Eh..
eh.. mbaaak!”
Seseorang sepertinya ada yang memanggilku,
aku langsung putar badan dan ternyata orang yang didalam mobil itu tadi yang
memanggilku. Aku langsung menghampirinya.
“Apa
ya mas……?” dengan terkejut ternyata yang didalam adalah Joshua.
Aku segera lari tetapi dia langsung
meraih tanganku dan mencegahku.
“tunggu
dulu.. kamu itu yang tadi dikantin kan? Yang nggak sengaja aku tabrak tadi?”
“Bu..bu..bukan
, salah orang kali” Sambil menutupi muka ku dengan topi yang ku kenakan.
Dia mencoba membuka topi yang menutupi
wajahku dan tanganku yang dari tadi mencoba menutupi wajah membuat tangan ku
dan dia bersentuhan. Tetapi hal itu tak lama. Aku langsung melepas dan topiku
terjatuh yang membuat mukaku terlihat olehnya.
“Kamu
yang tadi kan? Kalau iya, aku Cuma mau minta maaf”
“iya,
aku yang tadi.” Dengan nada pasrah karena ketahuan.
“Sebagai tanda maaf yuk kita makan
siang?”
“Ha? Nggak usah.. Makasih”
“Nggak papa, ayok masuk”
Ini
adalah kesempatan buat aku deket sama dia, dia kalo bisa dibilang adalah cinta
pertamaku yang nyata, sebelumnya aku juga pernah jatuh cinta. Pada gitar.
“Beneran?”
tanyaku
“Ya
beneran lah ninaJ”
Aku langsung masuk kemobil warna putih
kusam itu
“Tadi
kamu bilang apa? Nina? Kamu tau namaku?
“Ya
taulah, cewek seperti kamu siapa yang nggak tau”
“Emang
aku kaya apa ya? Kok segitunya?”
“Manis.”
Kata yang
terlontar dari mulut Joshua seakan membuat aku terbang keatas awan lalu
mendarat di planet Mars dan meluncur secara bebas melalui atfosfer bumi lalu
kembali lagi ke bumi. Baru kali pertama ada sosok laki-laki yang
mendeskripsikan aku Manis.
“Ngomong-ngomong
kamu tau namaku kan?”
“Iya
tau, Joshua kan?”
“Oh
itu udah tau. Yaudah” . “ kamu ngamen juga ya?”
“oh
itu Cuma kerja sampingan doang kok”
“emm..
gitu”
Tak terasa perjalanan hanya beberapa
menit ini sampai pada tujuan.
“Kita
makan disana aja yuk?” Ajakku
“Dimana?
Warung itu?” dengan nada tak percaya
Mie Ayam Jamur Mbak Gundil. Nama plang
itu tertera jelas dihalaman warung.
“Iya,
disana enak tau, kamu cobain dulu makanya ayok!”
“Enggak
mau di restaurant aja? Atau masakan padang gitu?”
“ahh..
udah cepetan turun.”
Aku dan Joshua duduk di bagian agak
luar, kali ini Jogjakarta agak mendung yang tidak memungkinkan aku uuntuk
melanjutkan ngamen. Disini aku dan joshua hanya mematung. Mengunci mulut
sendiri. Dan hanya bisa berbicara dari hati-kehati.
Tidak terasa jam menunjukan pukul 5
sore. Tanpa basa-basi aku langsung meninggalkan Joshua tanpa pamit. Dan terus
menerobos hujan
“Eh…
mau kemana??” Tanya Joshua
Aku tidak menjawab sepatah dua patah
kata pun. Dan langsung meninggalkan Joshua sendiri.
“Setelah dipikir-pikir dia itu memang
manis, dialah wanita aneh yang pernah kutemui” Desahnya dalam hati sambil tertawa kecil.
Saat
memasuki mobil, ternyata didalam ada sebuah gitar . Digitar itu juga ada
tulisan ‘My Guitar Is My life’
“Aku
tau betapa berartinya gitar ini buatmu nin” Sambil memegangi gitar.
“Aku janji besak pasti aku akan
kembalikan kerumah mu. Rumah? Tau alamatnya aja enggak. Tapi aku tidak putus
asa, aku akan tetap mencari gadis itu sampai ketemu dan mengembalikan
kepadanya.”
------------------------------------------------------------------------------
Alarm berbunyi lagi. Aku segera siap-siap
berangkat ngamen.
“Hoaaam.. Ngamen dulu………………… Gitar? Ha? Mana gitarku?”
Dengan nada panik seperti anak ayam kehilangan induknya.
Aku mencari kemana-kemana tetap tidak ketemu, aku tanya ke kos sebelah tapi tidaka ada yang mengaku melihatnya. Aku bingung. Tak tau harus berbuat apa kalau tak ada gitar itu.
Aku mencari kemana-kemana tetap tidak ketemu, aku tanya ke kos sebelah tapi tidaka ada yang mengaku melihatnya. Aku bingung. Tak tau harus berbuat apa kalau tak ada gitar itu.
Dengan terpaksa aku hari ini tidak ngamen. Dan
kemungkinan besar aku tidak ngantin hari ini. Sampai dikampus dengan penampilan
anehku setiap harinya, aku berjalan melewati lorong yang berhiaskan mading-mading
cantik. Tiba-tiba dari arah belakang ada yang mendorongku hingga aku terpental
beberapa meter.
“Joshua?
Ngapain kamu disini? Ngagetin aja” tanyaku
“hahaha..
maaf ya nin , bisnya kamu tak cariin nggak ketemu-ketemu. Taunya disini”
“oh..
emang ada apa ya? Kok nyariin aku?” tanyaku lagi
“ini
gitarmu.”
Dari sebrang lorong ternyata ada yang memanggilku .
Tania.
“Ninaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa”
Seakan aku membiarkan Joshua berbicara
, aku langsung meninggalkan Joshua sendiri, gitar yang akan dikembalikan Joshua
pun gagal .
“Apa tan?”
“ngantin yuk?”
“gada duit.”
“gampang, gue traktir. Ayok cepet deh
aku bawa segudang cerita nih hari ini. Aku lagi happy tingkat provinsi tau!”
“ah lebay kamu mah. Tentang apa
memangnya Tania sayang?’’
“Joshua. Kalo diliat-liat dia memang
ganteng . Dan kalo dipikir-pikir , aku suka sama dia. Lo mau kan comblngin gue
ke dia? Lo kan yang lagi deket tuh sama dia? Please nin? Lo sahabat terbaik gue
dan lo harus mau bantuin gue?
Kata-kata itu seakan mencekik lehernya
hingga putus, menusuk jantungnya yang terdalam dan meremukkan hatinya hingga
terceceran. Aku hanya bisa diam, dan tak tau harus mengatakan apa, aku bingung
sendiri. Ingin mengatkan sejujurnya pada Tania tapi itu tidak mungkin karena
Tania adalah sahabat terbaiknya dan tak mungkin mengkhianatinya.
“Oh itu yang mau lo omongin” jawabku
singkat.
“kok lo jawabnya gitu sih. Lo suka
sama dia sampe gak mau deketin gue sama dia?” tanyanya sinis.
“ha? Suka? Enggaklah, gue kn udah
bilang gue enggak suka.” Jawabku ragu.
“oh.. bagus deh kalo gitu”
------------------------------------------------------------------------------
Malem
ini Jogjakarta hujan lagi, ditemani secangkir teh hangat dan selimut tebal yang
sudah hampir menutupi seluruh tubuhku , aku langsung mengambil headset dan
menyalakan music mellow. Setidaknya ini dapat membuat hati aku tenang. Taunya
malah tidak. Biasanya saat-saat seperti ini aku ditemani gitar, sambil
memainkannya saat hujan-hujan seperti ini dan saat hati hancur seperti ini.
Tapi sekarang gitarku entah dimana.
Kalo boleh jujur, sebenarnya aku sakit
mendengar perkataan Tania . Kalau aku membatunya untuk mendekati Joshua sama
saja aku menyakiti diriku sendiri. Dan apabila aku tidak membantunya itu sama
saja ak telah menyakitinya. Aku bingung. Semalaman memikirkan hal itu.
Dikampus
aku duduk dibarisan paling akhir sambil makai headset, biasanya sih aku duduk
depan bareng Tania. Tapi entah mengapa badanku reflek minta duduk belakang.
“nin..
lo ngapain dibelakang? Nyariin curut? Ntar dirumah gue banyak”
Aku langsung kaget dan cepat-cepat
melepas headset dan mencari sumber suar itu. Dan ternyata Tania. Sebenarnya aku
agak males ngomong sama Tania, karena dialah yang buat aku hancur. Nah tapikan
dia nggak tau sebenarnya dan dia nggak tau betapa hancurnya hatiku.
“ya
duduk lah” jawabku
“kok
lo jawabnya sipek gitu, lo marah ya sama gue?”
“enggak”
jawabku singkat
“beneran
enggak kan? Yaudah aku ke toilet dulu ya cantik”
“ya”
jawabku tambah singkat.
Tiba-tiba terdengar suara sepatu
berjalan menuju arah kelas , taka sing lagi bagiku suara sepatu itu. Tak lama
wajahnya muncul dibibir pintu dengan menggunakan jas biru. Joshua. Kali ini dia
datang sambil membawa gitar yang tertinggal waktu itu.
“nina..
ini gitar yang ketinggalan kemarin. Lain kali jangan naro sembarangan ya,
untung aku masih baik jadi nggak aku jual tuh gitar.” Canda Joshua sambil
mencoba mengajak bicara aku. Tapi aku membiarkan dia nyerocos, aku diamkan dia
sampai dia lelah bicara lagi. Dan aku tak menggubrisnya sama sekali, aku masih
sibuk dengan novel yang ku genggam.
“nin?
Kok lo nggak ngomong apa-apa sih?”
“ya
ngomong apa”
“say
thanks kek, apa kek. Enggak?”
“ya,
makasih.” Jawabku singkat
“gitu
aja? Lo kenapa sih? Marah tah sama gue?”
Dan datang Tania dengan suara
cemprengnya , aku yang mengetahui kalau Tania akan muncul dikelas langsung
beranjak pergi dan membawa gitar agar Tania tak melihat aku dan Joshua sedang
ngobrol. Agar dia tak salah paham.
Kali ini kantin agak sepi, banyak
mahasiswa yang sudah pulang kerumah dengan memikul tugas-tugas tak karuan.
Termasuk Tania dan Joshua, mereka hari ini pulang bareng. Tania yang mengajak
Joshua. Setelah aku mengetahui hal itu aku langsung bergegas ke kantin ini. Dan
aku merenungi apa yang sebenarnya terjadi. Memikirkan arti bahagia
sesungguhnya. Kalau bahagia itu sederhana, melihat orang belahan jiwa kita
bersama orang yang kita cintai. Bukankah itu bahagia? Lalu mengapa aku
meneteskan air mata ini? Sungguh bodoh! Tolol kamu nina! Kalau sudah begini
ribet kan urusannya. Aku sanggup ,tapi entah sampai kapan. Aku cukup kuat
melihat mereka bersama, buktinya kalau aku tidak kuat mungkin aku sudah bunuh
diri dari dulu. Aku bingung dengan sindrom apa yang menggrogoti pikiranku ini.
Terlalu banyak beban.
------------------------------------------------------------------------------------------
Kali ini
harus berhasil. Desahku dalam hati. Aku sebenarnya sedang menyusun rencana
untuk mengabulkan permintaan sahabatku dulu. Waktu itu dia pernah mohon sama
aku buat nyomblangin dia ke Joshua tapi aku diamkan saja. Tapi sekrang akan ku
buktikan. Meskipun separuh hatiku remuk namun akan kugunakn hati yang
separuhnya.
“hai
Tania.. Ngantin yuk? Laper nih?” ajakku
“kesambet
setan apa lo ngajak gue? Pasti ada maunya?”
“enggak,
kali ini gue bayar sendiri deh.”
Aku dan Tania langsung menuju tujuan,
dengan diam-diam ternyata aku juga sedang sms Joshua agar datang ketempat yang
sama.
Sesampainya di kantin aku langsung
duduk ditempat yang sebelumnya sudah kusiapkan matang-matang, bertatakan bunga
mawar serta lilin-lilin mangkok yang indah, membuat penasaran Tania.
“ini
kantin udah jadi restaurant apa? Kok jadi gini?” sambil menggaruk-garuk
kepalanya yang sebenarnya tak benar-benar gatal.
“yee,
ini bukan restaurant. Ini ya kantin kramat kita , udah mengalami revolusi nih
hehe” gurauku untuk sedikut menghilangkan rasa curiga Tania.
Dari arah yang berlawanan datanglah
Joshua dengan masih menggunakan kaos futsal sambil membawa sebotol air mineral
, dia berjalan menuju tempat duduk kita. Sebenarnya aku sedang merencanakan
sesuatu.
“Hai
nin.. ada apa ya? Katanya lo sendiri kenapa bawa temen?” desah Joshua
“Nin..
kenapa gak bilang kalo lo undang Joshua juga?” tambah desah Tania.
“Eh.. aku pesen makanan dulu ya, atre
tuh takutnya nggak kebagian lagi. Udah lo duduk samping Tania dulu jos. Gue
tinggal bentar ya?” sambil tertawa kecil, ada niat terselubung.
Dari radius beberapa meter aku
mengintip kearah mereka berdua, mereka ternyata sudah saling mengobrol dan
akhirnya berpegangan tangan. Entah apa yang mereka bicarakan aku tak peduli.
Dalam lirihku aku berkata : Ya Allah.. inikah yang disebut bahagia? Belahan
jiwaku dan cinta pertamaku sudah bersama, dan sekarang aku benar-benar mengerti
arti bahagia sesungguhnya. Berkorban
The end :’)
Langganan:
Komentar (Atom)