Minggu, 19 Mei 2013

Khayalan Semu

Hidup ini bagai terselimut api hitam
Penuh dengan kecemburuan dan dendam
Mata memandang api jahanam
Berselimut debu di dalam hai dalam..

Kebahagiaanku lambat laun terampas
Namun tak dapat kuhempas
Hati terasa terhimpit
Beban yang begitu sengit..

Cinta mulai pudar oleh waktu
Menggiringku tuk melupakanmu
Ingin rasanya terlempar ke masa lalu
Tuk merebut kembali kebahagiaanku dulu..

Keseharianku hanya berharap agar ini cepat berlalu
Berdiri dihadapanmu dan dia dengan berlagak tak tahu
Bermain bersama mimpi-mimpi dan khayalan semu
Harapanku tuk bis bersamamu hanya daji khayalan yang berlalu..

Sabtu, 18 Mei 2013

Petikku Cinta Pertamaku



        Alarm berbunyi , ayam sudah mulai sibuk dengan kegiatan rutinnya membangunkan orang-orang tidur dikota ini. Kota Jogjakarta. Pukul 05:00 tepat , Nina langsung bergegas mematikan alarm dan segera mandi untuk bersiap-siap kerja hari ini. Niatku aku ingin berangkat lebih awal agar bisa dapat lebih banyak hasil hari ini dan siangnya aku langsung berangkat kuliah. Aku Cuma kerja jadi pengamen sebagai kerja sampingan. Bermodalkan gitar yang aku bawa dari pemberian Ayahku aja aku bisa cari duit sendiri, yah seenggaknya bisa meringankan beban orangtuaku untuk membayar kuliahku, aku memilih kuliah di fakultas seni music. Memang dari kecil aku sudah dikenalkan berbagai alat music oleh Ayahku, seperti suling, gendang, Pianika, harmonica dan tentunya gitar. Dan pada akhirnya aku memutuskan kuliah di Jogjakarta untuk meneruskan sekolahku, aku sudah meninggalkan Kota Malang tanah kelahiranku baru 2 bulan yang lalu.
          Dikampus aku dijuluki manusia aneh, ya mungkin karena penampilanku yang seperti ini jadi tidak sesuai dengan style teman-temanku yang lain. Tapi bukannya aku tak punya kawan di kampus ini, disini aku juga sahabat paling setia yang selalu ada disaat aku susah maupun senang. Tania.
          “Kantin yuk?” Ajak Tania.
          “Ayok , laper banget nih!” jawabku sambil berjalan melewati lapangan futsal samping kantin. Seketika dan tanpa komando aku langsung melongo seakan terhipnotis melihat kearah lapangan tanpa mengedipkan mata untuk beberapa detik. Joshua.
          “Hahaha, kaya nggak makan sebulan aja lo! Emang lo nggak sara………”
Pertanyaan itu seakan melayang begitu saja.
          “Nin.. Nin… Ninaaaaaaaaaa!! Lo ngeliatin apasih? Gue lagi ngomong ih!”
          “oh.. sorry-sorry tan. Nggak, nggak lagi ngeliatin apa-apa kok.”
          “hmm.. dusta coba aku lia……tt” . “Ohh.. kamu ngeliatin dia?”
Dengan nada bicara yang tak teratur aku jawab “hah? Dia? Dia siapa? Ngada lo mah! Udahlah lo mau pesen apa?” Basa-basi untuk mengalihkan pembicaraan.
          “Nah pake basa-basi segal lo haha. Nasi goreng sama es teh manis aja ya nin”
          “Oke siap bos!” Nada sigapku siap melayani
Antrean panjang ditambah dorong desak mahasiwa lain membuat aku lebih milih duduk dulu hingga antrean mulai merenggang. Setelah mulai agak longgar Aku bangkit dari posisi dudukku dan segera memesan pesananku juga pesanan Tania.
Tiba-tiba muncul sosok itu lagi. Sosok yang membuatku tadi melongo , dan ternyata hal itu terjadi lagi. Dia yang mendahului posisi antreanku membuat aku melongo kembali.
Secara tak sengaja ternyata dia menerobos antrean dan menyenggol minuman pesanan Tania. Es Teh Manis.
          “Ehh!!”
          “Maaf, maaf nggak sengaja!”
          “gimana sih!”
Dia langsung menghiraukan aku, aku langsung pergi meninggalkan tempat itu dan langsung menghampiri meja Tania. Tania ternyata juga tau hal itu.

          “Taaaaaa raaaaa.. Nasi goreng datang..”
          “Lama amat nin, hayoo abis ketemu siapa?”
          “ketemu apa sih. Ketemu siapa geh.” Nada gelagapanku mulai terlontar kembali. “ Maaf ya, teh-mu tadi tumpah. Tapi aku udah pesen lagi kok , nanti dikirim kesini.”
“Iya aku tau. Sini-sini duduk. Sini gue certain yaa.. Dia itu namanya Joshua, kalo bisa dibilang dia itu mahasiswa terkece dikampus ini, jago main futsal, bawaannya mobil Honda jazz kemana-mana. Dia asli Metropolitan asli.”
          “Anak orang kaya pastinya?”
          “Iyalah pastinya, lo naksir?”
          “Ehhh.. ngada deh lo itu lama-lama, ya enggak lah” Lagi-lagi gelagepan.
          “Kalo lo naksir, agaknya gak bisa deh”
Kata-kata itu seakan membuat aku penasaran.
          “emang kenapa?”
          “dia kan ganteng, pasti banyak yang naksir . Nanti lo banyak saingannya lagi.”
          “ohh.. Ihh apaan sih kok jadi bahas dia , enggak geh, siapa juga yang naksir.”
          “Terserah elo deh, awas ya nanti kemakan omongan sendiri loh”
          “ENGGAK Tania sayaaaaang!!”
--------------------------------------------------------------------------
Pagi ini aku siap dengan topi yang sengaja aku putar tudungnya kebelakang , kaos oblong warna hitam  pekat yang juga dilapisi jaket jeans yang sudah agak kusam dan pudar warnanya , ransel yang aku sampirkan dibahu serta celana jeans warna biru muda yang sudah kumel ditambah dengan sandal jepit bergambarkan Monnokurobo ini siap berangkat. Aku langsung mengunci pintu kamar kos ku dan tidak lupa gitar kesayanganku, kali ini aku akan menuju perempatan malioboro.
          Lampu merah perempatan dari arah utara dan selatan, aku ngamen di bagian selatan , aku mencoba menyanyikan lagu-lagu favoritku. Wish You Were Here lagunya Avril Lavigne.
Damn, Damn, Damn,What I'd do to have you Here, Here, Here I wish you were here
Damn, Damn, Damn,What I'd do to have you Near, Near, Near I wish you were here..
All those crazy thing you saidYou left them running through my headYou're always there, you're everywhereBut right now I wish you were here
Sewaktu aku masih di malang aku selalu menyanyikan lagu ini dengan ayah. Pokoknya lagu ini yang menginspirasi aku biar jadi musisi terkenal, yap tepat. Itulah cita-citaku dari kecil.
Aku bernyanyi kesana kemari sampai pada akhirnya mobil berwarna putih datang tepat dihadapanku aku langsung memainkan jari-jariku diatas gitar yang aku pegang didekat jendela mobil warna putih yang agak sedikit kusam  itu. Tiba-tiba seseorang telah membuka jendela mobilnya dan memberikanku uang . Tanpa aku perhatikan secara seksama, aku tinggalkan mobil itu setelah menerima uangnya .
          “Eh.. eh.. mbaaak!”
Seseorang sepertinya ada yang memanggilku, aku langsung putar badan dan ternyata orang yang didalam mobil itu tadi yang memanggilku. Aku langsung menghampirinya.
          “Apa ya mas……?” dengan terkejut ternyata yang didalam adalah Joshua.
Aku segera lari tetapi dia langsung meraih tanganku dan mencegahku.
          “tunggu dulu.. kamu itu yang tadi dikantin kan? Yang nggak sengaja aku tabrak tadi?”
          “Bu..bu..bukan , salah orang kali” Sambil menutupi muka ku dengan topi yang ku kenakan.
Dia mencoba membuka topi yang menutupi wajahku dan tanganku yang dari tadi mencoba menutupi wajah membuat tangan ku dan dia bersentuhan. Tetapi hal itu tak lama. Aku langsung melepas dan topiku terjatuh yang membuat mukaku terlihat olehnya.
          “Kamu yang tadi kan? Kalau iya, aku Cuma mau minta maaf”
          “iya, aku yang tadi.” Dengan nada pasrah karena ketahuan.
“Sebagai tanda maaf yuk kita makan siang?”
“Ha? Nggak usah.. Makasih”
“Nggak papa, ayok masuk”
          Ini adalah kesempatan buat aku deket sama dia, dia kalo bisa dibilang adalah cinta pertamaku yang nyata, sebelumnya aku juga pernah jatuh cinta. Pada gitar.
          “Beneran?” tanyaku
          “Ya beneran lah ninaJ
Aku langsung masuk kemobil warna putih kusam itu
          “Tadi kamu bilang apa? Nina? Kamu tau namaku?
          “Ya taulah, cewek seperti kamu siapa yang nggak tau”
          “Emang aku kaya apa ya? Kok segitunya?”
          “Manis.”
Kata yang terlontar dari mulut Joshua seakan membuat aku terbang keatas awan lalu mendarat di planet Mars dan meluncur secara bebas melalui atfosfer bumi lalu kembali lagi ke bumi. Baru kali pertama ada sosok laki-laki yang mendeskripsikan aku Manis.
          “Ngomong-ngomong kamu tau namaku kan?”
          “Iya tau, Joshua kan?”
          “Oh itu udah tau. Yaudah” . “ kamu ngamen juga ya?”
          “oh itu Cuma kerja sampingan doang kok”
          “emm.. gitu”
Tak terasa perjalanan hanya beberapa menit ini sampai pada tujuan.
          “Kita makan disana aja yuk?” Ajakku
          “Dimana? Warung itu?” dengan nada tak percaya
Mie Ayam Jamur Mbak Gundil. Nama plang itu tertera jelas dihalaman warung.
          “Iya, disana enak tau, kamu cobain dulu makanya ayok!”
          “Enggak mau di restaurant aja? Atau masakan padang gitu?”
          “ahh.. udah cepetan turun.”
Aku dan Joshua duduk di bagian agak luar, kali ini Jogjakarta agak mendung yang tidak memungkinkan aku uuntuk melanjutkan ngamen. Disini aku dan joshua hanya mematung. Mengunci mulut sendiri. Dan hanya bisa berbicara dari hati-kehati.
Tidak terasa jam menunjukan pukul 5 sore. Tanpa basa-basi aku langsung meninggalkan Joshua tanpa pamit. Dan terus menerobos hujan
          “Eh… mau kemana??” Tanya Joshua
Aku tidak menjawab sepatah dua patah kata pun. Dan langsung meninggalkan Joshua sendiri.
“Setelah dipikir-pikir dia itu memang manis, dialah wanita aneh yang pernah kutemui” Desahnya dalam hati sambil tertawa  kecil.

          Saat memasuki mobil, ternyata didalam ada sebuah gitar . Digitar itu juga ada tulisan ‘My Guitar Is My life’
          “Aku tau betapa berartinya gitar ini buatmu nin” Sambil memegangi gitar.
“Aku janji besak pasti aku akan kembalikan kerumah mu. Rumah? Tau alamatnya aja enggak. Tapi aku tidak putus asa, aku akan tetap mencari gadis itu sampai ketemu dan mengembalikan kepadanya.”

------------------------------------------------------------------------------
          Alarm berbunyi lagi. Aku segera siap-siap berangkat ngamen.
“Hoaaam.. Ngamen dulu………………… Gitar? Ha? Mana gitarku?” Dengan nada panik seperti anak ayam kehilangan induknya.
Aku mencari kemana-kemana tetap tidak ketemu, aku tanya ke kos sebelah tapi tidaka ada yang mengaku melihatnya. Aku bingung. Tak tau harus berbuat apa kalau tak ada gitar itu.
Dengan terpaksa aku hari ini tidak ngamen. Dan kemungkinan besar aku tidak ngantin hari ini. Sampai dikampus dengan penampilan anehku setiap harinya, aku berjalan melewati lorong yang berhiaskan mading-mading cantik. Tiba-tiba dari arah belakang ada yang mendorongku hingga aku terpental beberapa meter.
          “Joshua? Ngapain kamu disini? Ngagetin aja” tanyaku
          “hahaha.. maaf ya nin , bisnya kamu tak cariin nggak ketemu-ketemu. Taunya disini”
          “oh.. emang ada apa ya? Kok nyariin aku?” tanyaku lagi
          “ini gitarmu.”
Dari sebrang lorong ternyata ada yang memanggilku . Tania.
“Ninaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa”
Seakan aku membiarkan Joshua berbicara , aku langsung meninggalkan Joshua sendiri, gitar yang akan dikembalikan Joshua pun gagal .
“Apa tan?”
“ngantin yuk?”
“gada duit.”
“gampang, gue traktir. Ayok cepet deh aku bawa segudang cerita nih hari ini. Aku lagi happy tingkat provinsi tau!”
“ah lebay kamu mah. Tentang apa memangnya Tania sayang?’’
“Joshua. Kalo diliat-liat dia memang ganteng . Dan kalo dipikir-pikir , aku suka sama dia. Lo mau kan comblngin gue ke dia? Lo kan yang lagi deket tuh sama dia? Please nin? Lo sahabat terbaik gue dan lo harus mau bantuin gue?
Kata-kata itu seakan mencekik lehernya hingga putus, menusuk jantungnya yang terdalam dan meremukkan hatinya hingga terceceran. Aku hanya bisa diam, dan tak tau harus mengatakan apa, aku bingung sendiri. Ingin mengatkan sejujurnya pada Tania tapi itu tidak mungkin karena Tania adalah sahabat terbaiknya dan tak mungkin mengkhianatinya.
“Oh itu yang mau lo omongin” jawabku singkat.
“kok lo jawabnya gitu sih. Lo suka sama dia sampe gak mau deketin gue sama dia?” tanyanya sinis.
“ha? Suka? Enggaklah, gue kn udah bilang gue enggak suka.” Jawabku ragu.
“oh.. bagus deh kalo gitu”
------------------------------------------------------------------------------
          Malem ini Jogjakarta hujan lagi, ditemani secangkir teh hangat dan selimut tebal yang sudah hampir menutupi seluruh tubuhku , aku langsung mengambil headset dan menyalakan music mellow. Setidaknya ini dapat membuat hati aku tenang. Taunya malah tidak. Biasanya saat-saat seperti ini aku ditemani gitar, sambil memainkannya saat hujan-hujan seperti ini dan saat hati hancur seperti ini. Tapi sekarang gitarku entah dimana.
Kalo boleh jujur, sebenarnya aku sakit mendengar perkataan Tania . Kalau aku membatunya untuk mendekati Joshua sama saja aku menyakiti diriku sendiri. Dan apabila aku tidak membantunya itu sama saja ak telah menyakitinya. Aku bingung. Semalaman memikirkan hal itu.

          Dikampus aku duduk dibarisan paling akhir sambil makai headset, biasanya sih aku duduk depan bareng Tania. Tapi entah mengapa badanku reflek minta duduk belakang.
          “nin.. lo ngapain dibelakang? Nyariin curut? Ntar dirumah gue banyak”
Aku langsung kaget dan cepat-cepat melepas headset dan mencari sumber suar itu. Dan ternyata Tania. Sebenarnya aku agak males ngomong sama Tania, karena dialah yang buat aku hancur. Nah tapikan dia nggak tau sebenarnya dan dia nggak tau betapa hancurnya hatiku.
          “ya duduk lah” jawabku
          “kok lo jawabnya sipek gitu, lo marah ya sama gue?”
          “enggak” jawabku singkat
          “beneran enggak kan? Yaudah aku ke toilet dulu ya cantik”
          “ya” jawabku tambah singkat.
Tiba-tiba terdengar suara sepatu berjalan menuju arah kelas , taka sing lagi bagiku suara sepatu itu. Tak lama wajahnya muncul dibibir pintu dengan menggunakan jas biru. Joshua. Kali ini dia datang sambil membawa gitar yang tertinggal waktu itu.
          “nina.. ini gitar yang ketinggalan kemarin. Lain kali jangan naro sembarangan ya, untung aku masih baik jadi nggak aku jual tuh gitar.” Canda Joshua sambil mencoba mengajak bicara aku. Tapi aku membiarkan dia nyerocos, aku diamkan dia sampai dia lelah bicara lagi. Dan aku tak menggubrisnya sama sekali, aku masih sibuk dengan novel yang ku genggam.
          “nin? Kok lo nggak ngomong apa-apa sih?”
          “ya ngomong apa”
          “say thanks kek, apa kek. Enggak?”
          “ya, makasih.” Jawabku singkat
          “gitu aja? Lo kenapa sih? Marah tah sama gue?”
Dan datang Tania dengan suara cemprengnya , aku yang mengetahui kalau Tania akan muncul dikelas langsung beranjak pergi dan membawa gitar agar Tania tak melihat aku dan Joshua sedang ngobrol. Agar dia tak salah paham.

Kali ini kantin agak sepi, banyak mahasiswa yang sudah pulang kerumah dengan memikul tugas-tugas tak karuan. Termasuk Tania dan Joshua, mereka hari ini pulang bareng. Tania yang mengajak Joshua. Setelah aku mengetahui hal itu aku langsung bergegas ke kantin ini. Dan aku merenungi apa yang sebenarnya terjadi. Memikirkan arti bahagia sesungguhnya. Kalau bahagia itu sederhana, melihat orang belahan jiwa kita bersama orang yang kita cintai. Bukankah itu bahagia? Lalu mengapa aku meneteskan air mata ini? Sungguh bodoh! Tolol kamu nina! Kalau sudah begini ribet kan urusannya. Aku sanggup ,tapi entah sampai kapan. Aku cukup kuat melihat mereka bersama, buktinya kalau aku tidak kuat mungkin aku sudah bunuh diri dari dulu. Aku bingung dengan sindrom apa yang menggrogoti pikiranku ini. Terlalu banyak beban.

------------------------------------------------------------------------------------------

Kali ini harus berhasil. Desahku dalam hati. Aku sebenarnya sedang menyusun rencana untuk mengabulkan permintaan sahabatku dulu. Waktu itu dia pernah mohon sama aku buat nyomblangin dia ke Joshua tapi aku diamkan saja. Tapi sekrang akan ku buktikan. Meskipun separuh hatiku remuk namun akan kugunakn hati yang separuhnya.
          “hai Tania.. Ngantin yuk? Laper nih?” ajakku
          “kesambet setan apa lo ngajak gue? Pasti ada maunya?”
          “enggak, kali ini gue bayar sendiri deh.”
Aku dan Tania langsung menuju tujuan, dengan diam-diam ternyata aku juga sedang sms Joshua agar datang ketempat yang sama.
Sesampainya di kantin aku langsung duduk ditempat yang sebelumnya sudah kusiapkan matang-matang, bertatakan bunga mawar serta lilin-lilin mangkok yang indah, membuat  penasaran Tania.
          “ini kantin udah jadi restaurant apa? Kok jadi gini?” sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tak benar-benar gatal.
          “yee, ini bukan restaurant. Ini ya kantin kramat kita , udah mengalami revolusi nih hehe” gurauku untuk sedikut menghilangkan rasa curiga Tania.
Dari arah yang berlawanan datanglah Joshua dengan masih menggunakan kaos futsal sambil membawa sebotol air mineral , dia berjalan menuju tempat duduk kita. Sebenarnya aku sedang merencanakan sesuatu.
          “Hai nin.. ada apa ya? Katanya lo sendiri kenapa bawa temen?” desah Joshua
          “Nin.. kenapa gak bilang kalo lo undang Joshua juga?” tambah desah Tania.
“Eh.. aku pesen makanan dulu ya, atre tuh takutnya nggak kebagian lagi. Udah lo duduk samping Tania dulu jos. Gue tinggal bentar ya?” sambil tertawa kecil, ada niat terselubung.
Dari radius beberapa meter aku mengintip kearah mereka berdua, mereka ternyata sudah saling mengobrol dan akhirnya berpegangan tangan. Entah apa yang mereka bicarakan aku tak peduli. Dalam lirihku aku berkata : Ya Allah.. inikah yang disebut bahagia? Belahan jiwaku dan cinta pertamaku sudah bersama, dan sekarang aku benar-benar mengerti arti bahagia sesungguhnya. Berkorban
         



The end :’)